Senin, 12 Maret 2012

DESAIN ABRASI PANTAI

Desain Pengamanan Abrasi Pantai Saro Kabupaten Takalar
Nenny
ABSTRAK
Masalah yang paling dominan di daerah pantai ini adalah sering terjadi pengikisan pada bibir pantai (abrasi pantai) yang mengakibatkan perubahan garis pantai, dan terkadang terjadi limpasan air laut yang dapat mencapai kawasan pemukiman terutama pada musim angin barat, gelombang besar air laut dapat melimpas, dan menyebabkan banjir di kawasan pemukiman sekitar pantai.Penelitian ini bertujuan mencari alternatif tindakan yang efektif dan efisien untuk mencegah meluasnya abrasi di Pantai Saro Kabupaten Takalar serta mendesain bangunan pengamanan abrasi pantai.Berdasarkan permasalahan yang terjadi di Pantai Saro Kabupaten Takalar, maka bangunan yang tepat pada daerah tersebut adalah berupa seawall atau dinding pantai. Seawall dipilih untuk pengaman pantai Saro Kab. Takalar karena dapat menahan erosi, mengurangi limpasan gelombang yang terjadi sehinga permukiman dibelakangnya dapat terlindungi. Berdasarkan hasil analisa, diperoleh dimensi-dimensi perencanaan pengaman pantai sebagai berikut : tinggi muka air rencana 2,30 m (terhadap LWL), jenis bangunan adalah  Seawall, jenis pasangan adalah              kombinasi pasangan batu dan beton (K225), tinggi bangunan 3,40 m, lebar bangunan       3,50 m, Kemiringan            1 : 1, Kedalaman pondasi 1,00 m dengan menggunakan Buis Beton di isi batu diameter 1,00 m,sifat bangunan kaku (rigid). Dan untuk mencegah terjadinya gerusan di kaki bangunan diberi pelindung kaki berupa pasangan batu  kosong. Setelah dilakukan kontrol terhadap stabilitas, bangunan Seawall ini aman terhadap guling, geser,  retak, dan stabil terhadap penurunan.
Kata Kunci : Abrasi,erosi pantai, seawall,
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
Kerusakan pantai dan pesisir di Indonesia dalam bentuk abrasi (erosi pantai) yang diakibatkan oleh fenomena alam seperti kuatnya arus, ombak, dan angin serta akibat perbuatan manusia terus bertambah dari waktu ke waktu adalah permasalahan utama yang terjadi di daerah pantai. Apabila tidak segera dilakukan penanganan maka dalam waktu yang tidak terlalu lama abrasi akan meluas ke sentra ekonomi dan fasilitas umum lainnya.
Salah satu pantai yang telah cukup parah terabrasi yang mengakibatkan  sebagian masyarakat telah pindah ke lokasi yang lebih jauh dari garis pantai adalah Pantai  Saro Kabupaten Takalar. Berdasarkan informasi penduduk setempat, bahwa dahulu terdapat beberapa deret rumah disebelah garis pantai yang ada sekarang tetapi saat ini rumah mereka telah hilang. Melihat kondisi yang terjadi di lokasi studi dapat dibayangkan betapa besar laju abrasi yang terjadi. Abrasi yang terjadi diprediksi karena adanya gempuran gelombang.
Permasalahan yang paling dominan di daerah pantai ini adalah sering terjadi pengikisan pada bibir pantai (abrasi pantai) yang mengakibatkan perubahan garis pantai, dan terkadang terjadi limpasan air laut yang dapat mencapai kawasan pemukiman terutama pada musim angin barat, gelombang besar air laut dapat melimpas, dan menyebabkan banjir di kawasan pemukiman sekitar pantai.
B.    Permasalahan
Pada uraian yang dikemukakan pada latar belakang, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut :                             
1.     Bagaimana penanganan abrasi Pantai Saro Kab. Takalar ?
2.     Bagaimana Desain Pengamanan Abrasi Pantai Saro Kab. Takalar ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.       Mencari alternatif tindakan yang efektif dan efisien untuk mencegah meluasnya abrasi di Pantai Saro Kabupaten Takalar.
2.       Mendesain Bangunan Pengamanan Abrasi Pantai.
D. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian
                Untuk mempertegas pembahasan penelitian ini maka diberi batasan sebagai berikut :
1.     Menentukan penanganan teknis terhadap abrasi pantai yang telah terjadi.
2.    Merencanakan jenis bangunan pengamanan Pantai Saro Kabupaten Takalar
3.    Tidak memperhitungkan biaya dalam perencanaan pembangunannya
TINJAUAN PUSTAKA
A.            Konsep Abrasi/Degradasi Pantai
Wilayah pantai merupakan daerah yang sangat sensitif dimanfaatkan untuk kegiatan manusia, seperti kawasan pusat pemerintahan, pemukiman, industri, pelabuhan, pertambakan, pertanian/perikanan, pariwisata dan sebagainya. Adanya kegiatan tersebut dapat menimbulkan peningkatan kebutuhan akan lahan, prasarana dan sebagainya, yang selanjutnya akan timbul masalah-masalah yang ada di daerah pantai seperti abrasi, akresi, perubahan garis pantai,  rusaknya sumber daya pantai dan pelindung alami pantai, permasalahan yang terjadi di wilayah muara pantai.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi pantai, yaitu:
1.             Memperkuat atau melindungi pantai agar mampu menahan serangan gelombang,
2.             Mengubah laju transportasi sedimen sepanjang pantai,
3.             Mengurangi energi gelombang yang sampai ke pantai,
4.             Reklamasi dengan menambah suplai sedimen ke pantai atau dengan cara lain.

B.             Beberapa Defenisi Gelombang
Gambar ini menunjukkan suatu gelombang yang berada pada sistem koordinat x – y. Gelombang menjalar pada arah sumbu x.


Gambar  1. Sket defenisi gelombang

Beberapa notasi yang digunakan adalah :
d                :   Jarak antara muka air rerata dan dasar laut/ kedalaman laut (m)
h (x,t)       :   fluktuasi muka air terhadap muka air diam
a                :   amplitudo gelombang (m)
H               :   tinggi gelombang  = 2 a (m)
L                :   panjang gelombang, yaitu jarak antara dua puncak gelombang yang berurutan (m)
T                :   periode gelombang, yaitu interval waktu yang diperlukan oleh partikel air untuk kembali pada kedudukan yang sama dengan kedudukan sebelumnya. (dtk)
C               :   Kecepatan rambat gelombang = L/T (m/dtk)
k                :   bilangan gelombang = 2π /L
s               :   frekuensi gelombang = 2π /T
C.            Kecepatan Rambat dan Panjang Gelombang
Hubungan parameter gelombang :
                                                                                                                                                    1
                                                                                                                                                    2
                                                                                                                                                                3



D.            Klasifikasi Gelombang Menurut Kedalaman Relatif
Berdasarkan kedalaman relatif, yaitu perbandingan antara kedalaman air d dan panjang gelombang L, (d/L), gelombang dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu :
1.             Gelombang di laut dangkal jika d/L≤1/20

                                                                                                                                                4
                                                                                                                                                5

2.             Gelombang di laut transisi jika             1/20 <d/L≤1/2
                                                                                                                                        6

3.             Gelombang di laut dalam jika              d/L≥1/2
                                                                                                                                                8

                                                                                                                                        9

D.        Tekanan Gelombang
Contoh distribusi tekanan gelombang pada permukaan dinding revetmen dengan rumus:
                                                                                                                                                10
dengan :

 

Keterangan:
P          :       tekanan maksimun yang terjadi pada elevasi muka air rencana
b          :       sudut antara arah gelombang datang dan pada garis tegak lurus revetment atau seawall, yang biasanya diambil 15o
go        :       berat air laut (1,03 ton/m3)
Hmax      :       1.8 x  H
H         :       tinggi gelombang pecah
dlow         :       d + 5 mH
m        :       kemiringan dasar pantai dilokasi bangunan
h          :       tinggi gelombang laut dalam
d          :       kedalaman di lokasi gelombang pecah
E.             Pembentukan Gelombang

Untuk mendapatkan nilai gelombang rencana di laut dalam, beberapa analisa harus dilakukan yaitu:
a)       Pengolahan data angin untuk mendapatkan iklim gelombang. Proses ini dilakukan untuk meramal besarnya gelombang yang dibangkitkan oleh angin berdasarkan data angin dari stasiun BMG.
b)       Analisa harga ekstrim gelombang untuk mendapatkan nilai gelombang rencana untuk perioda ulang tertentu.

1.             Pengolahan Data Angin
Pengolahan data angin adalah untuk memperkirakan besar tinggi gelombang dan periodanya berdasarkan data angin. Sebenarnya akan lebih baik bila analisa gelombang dilakukan berdasarkan data gelombang. Akan tetapi data gelombang tidak tersedia di Indonesia, sehingga gelombang tersebut diprediksi berdasarkan data angin yang merupakan faktor utama pembentukan gelombang.
Berdasarkan  pada kecepatan angin, lama hembus angin dan fetch, tinggi dan periode gelombang signifikan dihitung dengan menggunakan persamaan (11) sampai (14) (CERC, 1992).
Untuk yang dibatasi oleh fetch dan tegangan angin :
H= 0.0015                                                                                                 (11)
T= 0.3704                                                                                                 (12)
Untuk yang dibatasi oleh durasi dan tegangan angin:
H= 0.000103 0.69                                                                          (13)
T=0.082                                                                                    (14)
dimana:
g                  = percepatan grafitasi bumi (m/s2)
(H0)s            = tinggi gelombang laut dalam siknifikan (m)
(T0)s            = periode gelombang laut dalam siknifikan ( detik )
UA               = tegangan gesek angin (m/s)
F                  = Fetch (m)
Peramalan gelombang dapat juga dilakukan dengan menggunakan pada grafik dibawah ini. Dari grafik tersebut apabila panjang fetch (F), faktor tegangan angin (UA) dan durasi diketahui maka tinggi dan periode gelombang signifikan dapat dihitung.
 





Gambar 2. Grafik penentuan tinggi dan periode gelombang signifikan
Di dalam proses pengolahan data angin di atas terdapat parameter-parameter yang harus dihitung terlebih dahulu yaitu fetch efektif dan juga wind stress factor.
2.             Perhitungan Fetch Efektif
Didalam peramalan gelombang angin, dibutuhkan fetch efektif (Feff), fetch bisa diartikan sebagai daerah pembentukan gelombang. Panjang fetch efektif ini diperoleh dari data panjang fetch dengan interval 5º.
Selanjutnya perhitungan panjang fetch efektif dihitung dari setiap arah dengan rumus (Triatmodjo,1999) :
                                                                                                        15
Dimana:
Feff         : panjang fetch efektif (m)
xi            : panjang fetch ke-i (m)
         :sudut antara fetch ke-i dengan arah utama (derajat).
Gambar  3. Daerah Pembentukan Gelombang (Fetch).
Penentuan titik fetch biasanya diambil pada posisi laut dalam perairan yang diamati. Ini karena gelombang laut yang dibangkitkan angin terbentuk di laut dalam suatu perairan, kemudian merambat ke arah pantai dan pecah seiring dengan mendangkalnya perairan mendekati pantai. Fetch efektif ditentukan berdasarkan garis-garis fetch yang ditarik berinterval 5º dari titik pembentukan gelombang hingga menyentuh daratan (pulau).
F.             Perhitungan Wind Stress Factor

1)       Koreksi ketinggian
Wind stress factor dihitung dari kecepatan angin yang diukur dari ketinggian 10 m di atas permukaan. Bila data angin diukur tidak dalam ketinggian ini, koreksi perlu dilakukan dengan persamaan berikut ini (persamaan ini dapat dipakai untuk z < 20 m):

                                                                                            16
dimana:
U(10)      : Kecepatan angin pada elevasi 10 m (m/s)
U(z)         : Kecepatan angin pada ketinggian pengukuran (m/s)
z              : Kecepatan angin pada ketinggian pengukuran (m).


2)       Koreksi stabilitas
Koreksi stabilitas ini berkaitan dengan perbedaan temperatur udara tempat bertiupnya angin dan air tempat terbentuknya gelombang. Persamaan koreksi stabilitas ini adalah sebagai berikut:

                                                                                                                17
dimana:
Uw        : Kecepatan angin setelah dikoreksi (m/s)
U(10): Kecepatan angin sebelum dikoreksi (m/s)
RT          : Koefisien stabilitas, nilai nya didapat dari grafik pada SPM (Vol. I, Figure 3 14), disajikan pada Gambar 2.4
Jika data temperatur udara dan air (sebagai data untuk membaca grafik) tidak dimiliki, maka dianjurkan memakai nilai RT =1.10.
3)       Koreksi efek lokasi
Koreksi ini diperlukan bila data angin yang diperoleh berasal dari stasiun darat, bukan diukur langsung di atas permukaan laut, ataupun  di tepi pantai. Untuk merubah kecepatan angin yang bertiup di atas daratan menjadi kecepatan angin yang bertiup di atas air, digunakan grafik yang ada pada SPM (Vol I, Figure 3-15), atau pada Gambar 2.5.
4)       Konversi ke wind stress factor
Setelah koreksi dan konversi kecepatan di atas dilakukan, tahap selanjutnya adalah mengkonversi kecepatan angin tersebut menjadi wind stress factor, dengan menggunakan persamaan berikut ini.
                                                                                                            18
dimana:
UA: Wind stress factor (m/s)
U: Kecepatan angin (m/s)


  Grafik yang digunakan untuk melakukan koreksi stabilitas.

Gambar 4.  Grafik yang digunakan koreksi efek lokasi.
Tabel 1.  Pedoman pemilihan jenis dan periode ulang gelombang

No.

Jenis Bangunan
Gelombang Rencana
Jenis Gelombang
Periode Ulang
1

Struktur fleksibel
(Rubber struktur)
Hs
10 – 50 thn
2
Struktur semi kaku
H0.1 – H 0,01
10 – 50 thn
3
Struktur kaku
H 0.01 – H maks
10 – 50 thn
Sumber : Nur Yuwono, 1992
Data masukan disusun dalam urutan dari besar ke kecil. Selanjutnya probabilitas ditetapkan untuk setiap tinggi gelombang sebagai berikut:
                                                                                    19
Dengan :
      :           probabilitas dari tinggi gelombang refresentatif ke m yang tidak dilampaui
                          :           tinggi gelombang urutan ke m
m                                 :           nomor urut tinggi gelombang signifikan = 1,2,….., N
                            :           jumlah kejadian gelombang selama pencatatan
G. Gelombang di Lokasi Bangunan
1.             Refraksi, Difraksi, dan Pendangkalan (shoaling) Gelombang
Refraksi gelombang adalah proses berbeloknya arah gerak gelombang akibat perubahan kedalaman pada daerah yang dilewati gelombang tersebut. Pendangkalan gelombang adalah proses berkurangnya tinggi gelombang akibat perubahan kedalaman. Difraksi gelombang adalah proses pemindahan energi gelombang ke arah daerah yang terlindung. Perpindahan energi gelombang ini akan menyebabkan timbulnya gelombang didaerah terlindung tersebut. Bangunan yang terlindungi tersebut dapat berupa bangunan buatan seperti pemecah gelombang, jetty, ataupun alamiah seperti halnya pulau atau bukit yang menjorok ke laut (head land).



Gambar 5. Proses refraksi, difraksi dan shoaling
Untuk menghitung tinggi gelombang yang terjadi pada perairan dangkal (H) dapat dihitung sebagai berikut:
H = Ho.Ks.Kr                                                                                                                                                                                                               (20)
2.             Gelombang Pecah
Pada kedalaman yang relatif dangkal, gelombang rencana seringkali ditentukan berdasarkan tinggi gelombang maksimun yang dapat terjadi didaerah tersebut. Untuk menentukan tinggi gelombang ini yaitu dengan perhitungan tinggi gelombang pecah, yang dapat dihitung dengan dua cara, antara lain:
1)             Cara Pertama (kurang teliti)
                                                                                                                        21
Dimana :          = tinggi gelombang rencana(m)
    = kedalaman di lokasi bangunan/ tempat gelombang pecah.(m)
2)             Cara kedua (teliti)
                                                                                                       22
Dimana :          : Tinggi gelombang rencana (m)
                            :   tinggi gelombang rencana (m)
                              :   kedalaman ujung kaki bangunan (m)
                              :   4.0 – 9.25 (m)
                               :   tinggi gelombang rencana (m)
                        m         :   slope (vertical : mendatar)
Gambar 6.  Hubungan a dan b  dengan












Gambar 6. Hubungan antara dan




Gambar 7.  Hubungan antara dan
1.             Runup Gelombang
Gambar dibawah ini  adalah hasil percobaan di laboratorium yang dilakukan oleh lrribaren untuk menentukan besar runup gelombang pada bangunan dengan permukaan miring untuk berbagai tipe material, sebagai fungsi bilangan Irribaren untuk berbagai jenis lapis lindung yang mempunyai bentuk berikut:
                                                                                                          (23)
Dengan:
Ir                 :   Bilangan Irribaren
                 :   Sudut kemiringan bangunan
H                 :   Tinggi gelombang di lokasi bangunan
Lo               :   Panjang gelombang di laut dalam
Grafik tersebut juga dapat digunakan untuk menghitung run down (Rd) yaitu turunnya permukaan air karena gelombang pada sisi pemecah gelombang.




Gambar 8 Grafik Runup Gelombang
2.             Kenaikan Muka Air Oleh Pemanasan Global (SLR)
                                Kegiatan manusia yang meningkatkan jumlah gas rumah kaca di atmosfer menyebabkan naiknya suhu bumi. Salah satu dampaknya adalah peningkatan tinggi permukaan laut yang disebabkan pemuaian air laut dan mencairnya gunung-gunung es di kutub. Oleh karena itu, dalam perencanaan bangunan pantai, kenaikan muka air ini harus diperhitungkan. Gambar 9 memberikan perkiraan besarnya kenaikan muka air laut dari tahun 1990 sampai 2100, yang disertai perkiraan atas dan bawah.
Gambar 9. Perkiraan kenaikan muka air laut karena pemanasan global

3.             Kenaikan Muka Air Oleh Angin (WS)
                        Besarnya fluktuasi tergantung dari fetch, kecepatan angin, kedalaman air dan kemiringan dasar pantai. Wind Setup dapat dihitung dengan persamaan (Triatmodjo, 1999) :
                WS =                                                                                                                     (24)
dengan :                F              : Fetch efektif (m)
V             : Kecepatan angin (knot atau m/s)
c              : Konstanta = 3,5 x 10-6
d              : Kedalaman air  (m)
g              : Percepatan gravitasi (m/s2)

a.         Penentuan Elevasi Muka Air Rencana
DWL dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut:
DWL = HWL +  WS(SS) + SLR                                                                         (25)
Dimana :      
HWL (High Water Level)               : Pasang Tertinggi (m)
WS (Wind Setup)                             : kenaikan muka air oleh angin (m)
SLR (Sea Level Rise)                          : kenaikan muka air oleh pemanasan global (m)
a.                                                                                                                                           b. Parameter Oceanografi
i.                                                                                                                                                      Pasang Surut
Secara umum pasang surut di berbagai daerah dapat dibedakan dalam empat tipe, yaitu pasang surut harian tunggal (diurnal tide),  harian ganda (semidiurnal tide), dan dua jenis campuran. Gambar 10 menunjukkan keempat jenis pasang surut tersebut. Sedangkan Gambar 11  menunjukkan sebaran keempat jenis pasang surut tersebut di Indonesia dan sekitarnya.


 




Gambar 10 Tipe Pasang Surut



Gambar 11. Kurva Pasang surut dan beberapa elevasi muka air.
ii.                                                                                                                                                          Transpor Sedimen Pantai
Rumus empiris untuk mengukur angkutan sedimen sepanjang pantai  adalah:
                                                                                                (26)
Dimana :                 Sx   :     angkutan sedimen sepanjang pantai (m3/dtk)
                                  Ho  :     tinggi gelombang pecah (m)
                                  Co   :     cepat rambat gelombang pecah (m/dt)
                                  ao   :     sudut datang gelombang
                                  ab   :     sudut gelombang pecah
Apabila dikehendaki Sx dalam m3/th maka persamaan tersebut menjadi :
                                                                         (27)
b.                                                                                                                                                             Sistem Pengamanan Abrasi Pantai
Dalam usaha penanggulangan dan perlindungan abrasi pantai, terdapat beberapa alternatif sistem pengamanan pantai yang dapat dipilih dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Alternatif sistem pengamanan pantai dapat berupa Breakwater, Groin, Seawall/Revetmen.

Gambar 12   Bangunan Pemecah Gelombang (Breakwater)



Gambar 13   Seawall/ dinding pantai
c.                                                                                                                                                              Elemen Struktur Dan Stabilitas
 Perhitungan stabilitas seawall  meliputi perhitungan gaya-gaya yang bekerja pada revetmen serta perhitungan kontrol stabilitas. Gaya-gaya yang bekerja pada revetmen antara lain :
a)         Akibat berat sendiri
Rumus :                                                                                              (28)
b)         Akibat Gempa
                              
      à g= 980 cm/dt2                                                                                                                                            (29)
c)          Akibat tekanan tanah aktif
Rumus :                                                                                            (30)
d)         Akibat tekanan tanah pasif
Rumus :                                                                                            (31)
e)          Akibat tekanan gelombang
                                                                            (32)
                                                            (33)
                                                                                                                                                    (34)
                                                                                                          (35)
dengan :
                                                                                       (36)
                                                                          (37)
                                                                                   (38)
                                                                                              (39)
                                                                                                              (40)
                                                                                    (41)
Sedangkan kontrol stabilitas konstruksi meliputi :
a)         Kontrol guling
Syarat :                                                                                              (42)
b)         Kontrol geser
Syarat :                                                                                              (43)
c)          Kontrol tegangan tanah
Syarat :                                                                                           (46)
d)         Kontrol bangunan terhadap retak
Syarat stabil terhadap retak :
     
                                                                                        (47)
e)          Kontrol Daya Dukung Tanah
Syarat :
                                                                                         (48)
                                                                                                            (49)
                                                          (50)
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Survey Pendahuluan
Tujuan survey pendahuluan ini adalah:
a).     Untuk melihat kondisi eksisting pantai di lokasi studi
b).     Untuk mengamati karateristik dan dinamika pantai antara lain morfologi, akresi dan agradasi, abrasi dan degradasi,serta sedimentasi.
B.    Gambaran Lokasi Studi
Lokasi yang ditinjau adalah Pantai Saro. Pantai Saro ini terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Saro, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar dan secara geografis terletak antara 5°3’ sampai 5°38’ LS dan antara 119°22’ sampai 119°39’ BT dengan luas wilayah 566,51 km2  (Gambar 3.1).
Desa Saro merupakan daerah padat pemukiman, dimana sebagian besar penduduknya adalah nelayan. Sebagian besar dari mereka bermukim sangat dekat dengan garis pantai bahkan sebagian masyarakat telah pindah ke lokasi yang lebih jauh dari garis pantai. Jarak pemukiman warga terdekat dari tepi pantai pada Desa Saro berjarak ± 10 meter. Disepanjang pantai pada Desa Saro belum terdapat bangunan pengaman pantai, padahal kondisi pantai tersebut sangat memprihatinkan. Kondisi pantai pada desa ini mengalami permasalahan abrasi akibat gelombang laut yang terjadi sepanjang ±1 km. Gambaran tentang lokasi studi dapat dilihat  gambar  13.
PANTAI SARO
 





Gambar 13 Peta Kabupaten Takalar
d.                                                                                                                                                             Pengumpulan Data Sekunder 
Data sekunder yang dibutuhkan dari instansi atau badan-badan terkait atau dari pihak lain. Data yang telah diperoleh antara lain :
a.          Data angin diperoleh dari Stasiun Maritim Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Paotere Makassar selama 10 tahun terakhir.
b.          Data pasang surut tahun 2009 untuk wilayah Takalar dari BBWS Pompengan Jeneberang.
c.           Peta Tofografi Kabupaten Takalar 
d.          Data sosial ekonomi termasuk aktifitas masyarakat yang berhubungan dengan pantai dan perairan laut.
e.                                                                                                                                                              Metode Analisa
Dari data yang diperoleh dilakukan analisa mengenai Desain Pengamanan Pantai. Terlebih dahulu dilakukan beberapa analisa seperti dibawah ini yaitu :
i.                                                                                                                                                                   Analisa Gelombang Rencana
Analisa gelombang rencana dihitung dengan menggunakan data angin. Gelombang rencana terpilih akan digunakan dalam desain bangunan pengaman pantai.
ii.                                                                                                                                                                   Analisa Pengukuran Pasang Surut
Analisa pengukuran pasang surut digunakan untuk menentukan elevasi puncak bangunan.
iii.                                                                                                                                                                   Analisa Angkutan Sedimen
Analisa sedimen transpor digunakan untuk mengetahui angkutan sedimen sepanjang pantai, sehingga perencanaan pengaman pantai sesuai dengan kebutuhan.
f.                                                                                                                                                              Desain Bangunan Pengaman Pantai
Setelah dilakukan analisa gelombang rencana, analisa sedimen transpor, dan setelah didapatkan elevasi acuan lokasi studi kemudian menentukan Design Water Level.
Dari analisa tersebut kemudian  merencanakan bangunan pengaman pantai yang sesuai untuk daerah studi.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A.    Arah Dan Tinggi Gelombang
            Tinggi dan periode gelombang dengan kala ulang dapat dilihat pada table berikut. Perhitungan yang lebih lengkap terdapat pada Lampiran 4.2
Tabel 2.  Rekapitulasi Tinggi dan Periode Gelombang
Berdasarkan Kala Ulang 20 Tahun
Arah
Barat Laut
Barat
Barat Daya
Max.
Tinggi (Hsr)
3.34
2.92
2.15
3.34
Periode (Tsr)
7.38
6.64
5.74
7.38
Sumber : Hasil Perhitungan
B.     Peramalan Pasang Surut
                Analisa pasang surut dilakukan untuk menentukan elevasi muka air rencana, dan dimensi bangunan pantai. Data pasang surut diperoleh dari  pengukuran yang pernah dilakukan oleh BBWS Pompengan Jeneberang selama 15 hari dengan interval waktu 1 jam, dan hasilnya disajikan Gambar 4.3

MSL

1 komentar: